Jalan Terputus, Pemerintah Bungkam: Aspirasi Warga Pati Bubur dan Gunung Bungkuk Seolah Tak Didengar
Sudah lebih dari satu bulan masyarakat menunggu, namun harapan itu belum juga berbalas. Kondisi jalan satu-satunya yang menghubungkan Desa Pati Bubur, Gunung Bungkuk, hingga poros Ranah Penantian masih memprihatinkan. Jalan yang menjadi urat nadi aktivitas warga itu rusak parah dan sulit dilalui, namun hingga kini belum ada respons nyata dari pemerintah setempat.
Ironisnya, persoalan ini bukan hal baru. Upaya pelaporan dan pemberitaan sudah dilakukan berulang kali. Keluhan masyarakat telah disampaikan melalui berbagai saluran, bahkan telah dipublikasikan di media. Namun kenyataannya, pemerintah memilih diam. Tidak ada penjelasan, tidak ada langkah darurat, apalagi solusi konkret.
Sikap bungkam ini tentu menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Jalan tersebut bukan sekadar infrastruktur biasa, melainkan satu-satunya akses utama bagi warga untuk beraktivitas: ke sekolah, ke kebun, ke pasar, hingga ke fasilitas kesehatan. Ketika akses ini terabaikan, maka yang dipertaruhkan adalah keselamatan dan kehidupan ekonomi masyarakat.
Masyarakat tidak menuntut janji berlebihan. Yang mereka harapkan hanyalah kehadiran negara dalam bentuk perhatian dan tindakan. Setidaknya ada peninjauan lapangan, pernyataan resmi, atau langkah sementara agar aktivitas warga tidak terus terganggu.
Pemerintah daerah seharusnya menyadari bahwa diam bukanlah solusi, dan pembiaran hanya akan memperlebar jarak antara pemerintah dan rakyat. Jika aspirasi masyarakat terus diabaikan, maka kepercayaan publik pun perlahan akan terkikis.
Kini masyarakat masih menunggu. Namun pertanyaannya, sampai kapan harus menunggu, dan apakah harus ada korban terlebih dahulu agar persoalan ini dianggap penting?
jurnalis ISMAILHASAN MEDIA PRESISI



Komentar
Posting Komentar