Dana Triliunan Sudah Turun, Kenapa Petani Masih Menunggu? Realisasi Lambat, Rakyat yang Menjerit


 


SUMBAR – Fakta mencengangkan terungkap di lapangan. Ribuan hektare lahan pertanian hancur diterjang banjir bandang, petani menangis tak tahu arah, namun di sisi lain... anggaran pemulihan bernilai fantastis justru sudah lama dikucurkan dari pusat.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sendiri yang mengungkapkan hal ini saat meninjau lokasi bencana di Pasie Laweh, Senin (14/4/2026).
Dana sebesar Rp455 Miliar khusus dialokasikan untuk Sumatera Barat. Belum lagi tambahan total bantuan nasional yang mencapai ratusan miliar hingga menyentuh angka Triliunan Rupiah. Uang itu sudah ada sejak awal tahun.
Tapi pertanyaannya menyakitkan:
Di mana uang itu sekarang? Kenapa di lapangan masih terlihat kosong? Kenapa realisasinya jauh dari harapan?
Bukan Uang yang Kurang, Tapi Niat yang Lemah
Ini bukan soal kekurangan anggaran. Pusat sudah buktikan serius menolong.
Masalahnya ada di bawah. Ada di tangan-tangan yang seharusnya menyalurkan, tapi entah kenapa geraknya selambat kura-kura.
Petani sudah tak punya bibit, tak punya modal, lahan pun sudah rusak parah.
Mereka butuh bantuan sekarang, bukan bulan depan, bukan tahun depan.
Tapi sayang, birokrasi yang berbelit, atau mungkin ada yang sengaja memperlambat, membuat bantuan itu seperti "menggantung di angin".
Rp455 Miliar itu angka besar.
Cukup untuk memulihkan sawah, cukup untuk menghidupkan kembali ekonomi rakyat.
Tapi kalau penyalurannya lambat, kalau prosesnya ruwet, kalau ada yang main-main...
Maka yang terjadi bukan pertolongan, tapi penyiksaan batin.
Cukup Sudah Alasan! Bergeraklah!
Wahai para pejabat daerah dan dinas terkait,
Rakyat tidak butuh penjelasan panjang lebar.
Rakyat tidak butuh laporan indah di atas kertas.
Rakyat butuh bukti nyata di tanah mereka.
Dana sudah ada, perintah sudah ada.
Jangan biarkan uang negara tidur di bank sementara petani tidur dengan lapar.
Jangan biarkan amanah ini terbuang sia-sia hanya karena kelambanan atau keserakahan segelintir orang.
Bergeraklah cepat!
Karena setiap hari yang terlewat, itu artinya harapan petani semakin pupus, dan dosa kelambanan itu akan ditanggung sendiri oleh mereka yang memegang kendali.
Uang sudah turun, kerjaanlah yang belum jalan. Sungguh ironis, di negeri yang kaya, rakyat harus menderita karena birokrasi yang mati rasa.
tim jurnalis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah Tetapkan Jadwal Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026 Melalui SKB 3 Menteri

Polisi Kunjungi Korban Penganiayaan di RSUD Pasaman: Dugaan Konflik Lahan vs Tambang Emas Ilegal

Tragedi di Rao Selatan: Pria Lanjut Usia Jadi Korban Penikaman, Pelaku Diduga Tetangga Sendiri!