Darah Rakyat di Tanah Emas: Korban Jiwa di Lokasi PETI Bukit Malintang

PASAMAN – Nyawa melayang lagi di lokasi pertambangan tanpa izin (PETI). Rabu (15/4/2026) sekitar pukul 10.00 WIB, seorang penambang bernama Wadi (50), warga Bukit Talang, Nagari Limo Koto, Kecamatan Bonjol, harus meregang nyawa setelah tertimpa batang pohon besar yang roboh secara tiba-tiba di Bukit Malintang, Nagari Ganggo Hilia.

Kejadian ini kembali membuka luka lama dan mempertanyakan seriusnya pengawasan wilayah. Bagaimana mungkin aktivitas tambang ilegal bisa berjalan seenaknya, bahkan sampai memakan korban jiwa, seolah hukum dan aturan hanyalah tulisan di atas kertas?

Hukum Diam, Oknum Beraksi, Rakyat yang Mati

Di atas kertas, PETI adalah tindakan melanggar hukum. Namun di lapangan, aktivitas ini terus berjalan bak pasar malam. Hutan dirambah, tanah dikeruk, dan yang paling menyedihkan, nyawa manusia dipertaruhkan demi sebutir emas yang tak seberapa.

Korban kali ini bukan orang asing, melainkan warga lokal yang terpaksa mencari nafkah di tempat berbahaya karena keterbatasan lapangan kerja. Mereka bekerja tanpa alat keselamatan, tanpa jaminan, di bawah naungan pohon-pohon besar yang siap tumbang kapan saja.

Pertanyaannya mendasar dan menyakitkan:

Di mana mata dan telinga aparat selama ini?

Apakah izin "jalan" itu benar-benar tidak ada, atau hanya "tidak terlihat" di atas kertas saja?

Siapa yang sebenarnya memegang kendali di hutan-hutan tersebut? Apakah negara sudah menyerahkan wilayahnya kepada para preman dan bandar tambang?

Bukan Kecelakaan, Ini Kelalaian Sistem

Jangan sebut ini kecelakaan murni. Ini adalah akibat dari kelalaian, ketidakpedulian, dan mungkin juga ada "tangan-tangan dingin" yang membiarkan hal ini terjadi demi keuntungan pribadi.

Selama tambang ilegal dibiarkan beroperasi, selama pengawasan lemah atau bahkan "tidak berfungsi", maka korban berikutnya hanya tinggal menunggu waktu.

Emas yang diambil habis, tapi yang tertinggal adalah lubang-lubang maut, hutan yang gundul, dan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Untuk Pemerintah dan Penegak Hukum:

Cukup sudah retorika dan janji manis.

Bukti nyata dibutuhkan sekarang.

Tindak tegas para bandar, tutup lokasi ilegal, dan berikan perlindungan hukum serta keselamatan bagi rakyat yang mencari nafka

Jangan biarkan tanah Pasaman ini terus basah oleh keringat dan darah rakyat, sementara kekayaannya dibawa kabur oleh mereka yang tidak bertanggung jawab.

Selamat jalan Wadi... Semoga kematianmu menjadi tamparan keras untuk membangunkan mereka yang selama ini berpura-pura tidur.

tim jurnalis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah Tetapkan Jadwal Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026 Melalui SKB 3 Menteri

Polisi Kunjungi Korban Penganiayaan di RSUD Pasaman: Dugaan Konflik Lahan vs Tambang Emas Ilegal

Tragedi di Rao Selatan: Pria Lanjut Usia Jadi Korban Penikaman, Pelaku Diduga Tetangga Sendiri!