PILU DAN PERIH: JALAN TERBAN DI SITUJUAH LADANG LAWEH, LUKA YANG TAK BERKUNJUNG SEMBUH
PAYAKUMBUH – Lagi dan lagi, luka di tubuh infrastruktur kita kembali menganga lebar. Di Situjuah, Ladang Laweh, peristiwa jalan terban kembali terulang, menyisakan duka mendalam dan keprihatinan yang tak terkira. Bukan sekadar tanah longsor biasa, ini adalah gambaran
perih betapa beratnya perjuangan warga di sini demi sekadar bergerak, bekerja, dan menjalani hidup.
Secara ilmiah, ini disebut pergerakan tanah atau keruntuhan struktur pendukung akibat kondisi tanah yang rapuh, dihajar curah hujan yang tak henti turun, dan beban kendaraan yang berat. Namun bagi kami warga, ini adalah tragedi nyata yang mematahkan harapan. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan, kini berubah menjadi jurang pemisah yang menyakitkan.
Hati ini hancur melihat dampaknya. Jalur penghubung ke Kabupaten Lima Puluh Kota terputus total, ekonomi warga lumpuh seketika. Pedagang kehilangan waktu, tenaga, dan harapan untuk mencari nafkah. Yang paling menyayat hati, anak-anak kita, masa depan bangsa, harus berjuang melewati jalur-jalur terjal dan berbahaya, berjalan jauh demi sampai ke sekolah, mempertaruhkan nyawa hanya demi selembar ilmu.
Betapa pilunya hati ini, melihat jalan terban bukan lagi sekadar kerusakan, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan dan kehidupan kami sehari-hari. Rasanya ingin menangis, mengapa nasib jalan kami begini adanya? Kapan derita ini akan berakhir? Kami hanya berharap, tangisan dan keluh kesah ini terdengar. Bahwa kami lelah berjuang sendirian menghadapi alam dan keadaan. Kami butuh jalan yang aman, kami butuh kepastian, dan kami sangat berharap perih ini segera diobati dengan solusi nyata, agar tak ada lagi air mata yang jatuh karena kondisi jalan yang menyedihkan ini.
ismail hasan


Komentar
Posting Komentar